Intellectual Property dalam Kacamata Islam

Intellectual Property dalam Kacamata Islam

Islam sejak awal telah mengakui adanya intellectual property pada setiap manusia. Seperti pernyataan Yûsuf al-Qaradhâwi bahwa tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab selain Al-Qur'an yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya dan memuji orang-orang yang menguasainya. Suatu petunjuk yang sangat agung dari Alquran dalam hal ini adalah bahwa ia memberi penghargaan pada Ulu al-Albâb, kaum cendekiawan.

Pada hal ini, MUI mengeluarkan fatwa khusus yang berkaitan dengan perlindungan intellectual property rights yakni fatwa MUI No. 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta.  MUI menggolongkan Hak Cipta sebagai barang berharga yang boleh dimanfaatkan secara syara' (hukum Islam). Kemudian, mayoritas ulama dari kalangan Mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanbali berpendapat bahwa hak cipta atas ciptaan yang orisinal dan manfaat tergolong harta berharga, sebagaimana benda jika boleh dimanfaatkan secara syara' (hukum Islam). Sedang, ulama Hanafiyyah tidak mengakui  intellectual property, karena kepemilikan intellectual property sangatlah abstrak dibandingkan dengan pemilikan terhadap benda nyata, sehingga intellectual property tidak bisa disimpan dan manfaatnya bisa hilang sedikit demi sedikit.

MUI juga mengutip pendapat Wahbah al-Zuhaili, ilmuwan muslim mengenai hak kepengarangan. Yang mana hak ini dilindungi dalam Islam. Sehingga mengkopi buku tanpa izin, atau mencetak ulang buku tanpa izin merupakan sebuah pelanggaran dan berarti telah melakukan kejahatan terhadap hak pengarang. MUI juga menfatwakan bahwa pelanggaran hak cipta hukumnya adalah haram. Ketua Umum Komisi Fatwa MUI saat dikeluarkan fatwa tersebut, KH Ma'ruf Amin menyatakan bahwa "Pembajakan bukan saja termasuk perbuatan maksiat, tapi juga merupakan perbuatan dzalim. Memanfaatkan hak orang lain, sama halnya dengan mencuri," Ma’ruf Amin juga menyatakan bahwa pembajakan mematikan kreativitas seniman dalam berkarya serta menambahkan bahwa ,” fatwa ini bukan segala-galanya, tapi merupakan sebuah pendekatan moral. "Ini merupakan kampanye bersama terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan mudarat,"

Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Bisnis Intellectual Property

Dalam hukum Islam, Hak Cipta dipandang sebagai salah satu hak kekayaan yang mendapat perlindungan hukum sebagaimana kekkayaang biasanya. Hak cipta yang medapat perlindungan hukum islam ialah hak cipta yang tidak bertentangan dengan hukum islam. Sehingga jika tidak bertentangan, hak cipta bisa dijadikan objek akad baik itu akad pertukaran, komersial maupun akad non komersial serperti diwakafkan atau diwariskan. Hukum islam juga menegaskan larangan terhadap hak cipta seperti pembajakan karena tergolong kedalam perbuatan zalim yang haram hukumnya. Sesuai dengan aturan yang berlaku yakni pada UU Nomor 28 Tahun 2014, menegaskan bahwa setiap pihak yang ingin memanfaatkan suatu ciptaan haruslah memiliki izin dari pencipta maupun pemegang hak cipta tersebut.

Perlu diingat bahwa hak cipta memiliki hak moral dan juga hak ekonomi. Hak moral menyangkut dengan pribadi pencipta. Sehingga saat menggunakan ciptaan harusah mencantumkan namanya, menggunakan nama aslinya atau samaran, Aturan mengenai hak moral  sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) UUHC adalah sebagai berikut:

  1. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian ciptaannya untuk umum;
  2. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;
  3. mengubah ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;
  4. mengubah judul dan anak judul ciptaan; dan
  5. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi ciptaan, mutilasi ciptaan, modifikasi ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

sedang hak ekonomi sang pencipta atau pemegang hak cipta sesuai dengan Pasal 9 ayat (1) UUHC yakni:

  1. penerbitan ciptaan;
  2. penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya;
  3. penerjemahan ciptaan;
  4. pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian ciptaan;
  5. pendistribusian ciptaan atau salinannya;
  6. pertunjukan ciptaan;
  7. pengumuman ciptaan;
  8. komunikasi ciptaan; dan
  9. penyewaan ciptaan.

Itulah hak moral dan ekonomi yang seharusnya didapatkan pencipta ataupun pemegang hak cipta. Semoga kita bisa menjadi musim yang baik dengan tidak melakukan pelanggaran hak cipta dan senantiasa mengapresiasi hasil karya orang lain.