Kisah Sahabat Nabi Yang Jomblo

Kisah Sahabat Nabi Yang Jomblo

Tsa’laba bin Abdurrahman merupakan pemuda yang sangat mencintai dan patuh pada Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan pemuda yang cukup tampan dan berstatus jomblo alias tidak memiliki pasangan. Alkisah, pada suatu hari, Tsa’laba pulang dari suatu tempat.

Dalam perjalanan, ia melewati sebuah rumah sederhana yang saat itu pintunya terbuka. Tanpa sengaja, Ia menoleh ke arah rumah tersebut. Di saat yang bersamaan, ada seorang wanita didalam rumah tersebut yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tsa’laba pun tidak sengaja melihat wanita itu. Kejadian itu membuat Tsa’laba merasa begitu bersalah hingga membuatnya menangis tersedu-sedu. Ia merasa sangat malu sehingga ia pergi berlari sampai keluar dari Kota Madinah.

Perilakunya yang tidak ia sengajai, membuat ia juga merasa begitu malu dan merasa tak pantas jika ia harus memandang wajah Nabi Muhammad SAW yang mulia dan ia merasa tak pantas lagi bersanding dengan Baginda Muhammad SAW. Hal itu karena rasa cintanya kepada Nabi Muhammad SAW begitu besar hingga ia merasa perbuatannya telah membuat cintanya kepada Nabi Muhammad SAW menjadi tidak tulus karena telah melanggar apa yang dilarang Rasulullah. Padahal jelas sekali, kala itu Tsa’laba tidak sengaja melirik ke arah rumah yang terbuka tersebut.

Kejadian itu juga lantas membuatnya bersembunyi pada dua bukit perbatasan Kota Madinah. Rasulullah SAW pun merasakan ketidakadaan Tsa’laba hingga Rasulullah bertanya pada sahabat-sahabatnya yang lain. Para sahabat tidak tahu menahu, hingga akhirnya Rasulullah mengutus Sayyidina Umar bin Khattab dan seseorang lainnya untuk menemani Sayyidina Umar mencari keberadaan Tsa’laba. Sayyidina Umar pun mencari Tsa’laba ke tempat yang diarahkan Rasulullah.

Sesampainya disana, bukannya menemukan Tsa’laba, Sayyidina Umar malah menemukan bukit yang berbatu dan hamparan padang pasir yang kosong. Sayyidina Umar pun tetap mencari-cari, menyusuri padang pasir yang luas hingga bertemu dengan seorang pengembala kambing. Beliau pun bertanya pada pengembala kambing tersebut dengan memberi tahu ciri-ciri Tsa’laba.

Baca juga: Teuku Wisnu Berikan Tayangan Animasi Bermanfaat

Pengembala kambing tersebut mengatakan tak pernah melihat orang yang digambarkan Sayyidina Umar, namun ia pernah melihat seorang pemuda yang biasanya menghampirinya untuk meminta minum. Pemuda tersebut berwajah muruh dan sering sekali menangis. Setelah minum, ia pun langsung lari ke atas bukit. Mendengar itu, Sayyidina Umar tetap menanyakan keberadaan pemuda itu hingga pengembala menunjukkannya.

Sayyidina Umar dan sahabatnya pun langsung beranjak kesana dan menemukan pemuda yang dimaksud pak pengembala. Ternyata pemuda itu ialah Tsa’laba. Tsa’laba sempat ingin melarikan diri saat melihat Sayyidina Umar. Ia merasa begitu malu dan menanyakan kepada Sayyidina Umar perihal apakah Rasulullah marah kepadanya. Setelah menyatakan itu, Tsabala pun pingsan. Sayyidina Umar pun membawanya pulang bersamanya.

Sayyidina Umar pun mengatakan bahwa ia telah menemukan Tsa’laba dan Rasulullah pun datang mengunjungi Tsa’laba yang telah jatuh sakit. Disana, Rasulullah mendekati Tsa’laba dan meletakkan kepala Tsa’laba dalam pangkungan Nabi, namun Tsa’laba menolaknya karena merasa hina. Rasulullah pun menanyakan perkara apa yang diperbuat Tsa’laba hingga membuatnya menjadi seperti ini.

Tsa’laba pun menceritakan kejadian tersebut, Rasulullah yang mendengarnya bukannya marah dan kesal melainkan bangga pada Tsa’laba. Namun, usai Tsa’laba menceritakan pengalamannya, Ia pun meninggal dalam pangkuan Nabi. Nabi pun memandikan, mengafani, dan mengimami shalat jenazah. Rasulullah juga ikut mengantarkan jenazah Tsa’laba ke liang kubur. Namun, ada hal yang tidak biasa. Rasulullah berjalan dengan kaki yang berjinjit. Banyak sahabat bertanya mengapa Nabi berjalan berjinjit, Nabi pun mengatakan bahwa ada begitu banyak malaikat yang turun mengantarkan jenazah Tsa’laba sehingga jalanan terasa sempit.

Wah, MasyaAllah ya. sungguh besar rasa cinta Tsa’laba kepada Nabi Muhammad SAW hingga malaikat pun pun ikut mengantarkan kepulangannya. Kisah Tsa’laba ini dikutip dari Mukhatashar Kitabit-Tawwabin yang dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah Al-Anshari dan ditulis oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy. Semoga kisah ini menjadi pelajaran untuk kita semua agar mencintai Nabi dengan sepenuh hati, ya.